Harga minyak dunia meningkat 2 peratus Featured

Sumber : https://www.bharian.com.my/node/265365

Rabu, 29 Mac 2017 @ 8:07 AM Harga minyak dunia meningkat 2 peratus

NEW YORK: Harga minyak dunia meningkat dua peratus semalam selepas gangguan teruk terhadap bekalan minyak Libya dan cadangan supaya Pertubuhan Negara Pengeksport Petroleum (OPEC) serta pengeluar minyak lain meneruskan pengurangan pengeluaran sehingga akhir tahun. Kumpulan bersenjata menyekat pengeluaran di telaga minyak barat Libya, Sharara dan Wafa, mengurangkan pengeluaran sebanyak 252,000 tong sehari atau kira-kira satu pertiga, kata seorang sumber di National Oil Corp (NOC). NOC mengisytiharkan force majeure terhadap pemuatan minyak mentah dari telaga minyak itu. Minyak mentah Brent naik 58 cents atau 1.14 peratus kepada AS$51.33 setong. Kontrak minyak mentah Amerika Syarikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri sesi semalam 64 cents atau 1.34 peratus lebih tinggi kepada AS$48.37 setong. "Penutupan dua lapangan minyak Libya menyokong pasaran hari ini (semalam)," kata Pakar Niaga Hadapan Tenaga Citi Futures, Tim Evans dalam nota penyelidikannya. Menteri Minyak Iran, Bijan Zanganeh, berkata persetujuan antara OPEC dan pengeluar bukan OPEC untuk mengurangkan pengeluaran dan mengurangkan lebihan bekalan minyak mentah global dijangka dilanjutkan melangkaui Jun. - Reuters
Read more...

Kesepakatan OPEC Masih Jadi Pendorong Kenaikan Harga Minyak Featured

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/

Arthur Gideon

Liputan6.com, New York - Harga minyak kembali naik pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta). Dalam tiga hari terakhir, harga minyak terus naik. Kenaikan ini terjadi setelah adanya kesepakatan dari Organisasi pengekspor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksi pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir.

Mengutip Wall Street Journal, Sabtu (3/12/2016), harga minyak mentah berjangka AS naik 62 sen atau 1,21 persen ke angka US$ 51,62 per barel di New York Mercantile Exchange. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Juli 2015. Sedangkan untuk harga minyak Brent yang merupakan patokan global naik 52 sen atau 0,96 persen ke angka US$ 54,46 di ICE Futures Exchange, London, Inggris.

Harga minyak langsung merangkak naik setelah adanya kesepakatan dari para anggota OPEC untuk menarik produksi atau mengurangi produksi sebesar 1,2 juta barel per hari. "Pada titik ini saya berani bertaruh tidak ada analis yang berani memperkirakan harga minyak bakal jatuh," jelas Senior Vice President RJ O’Brien & Associates, Ric Navy.

Dalam pekan ini, harga minyak mentah berjangka AS telah naik 12,2 persen. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak 2009 lalu. Namun memang, pelaku pasar melihat bahwa ada kemungkinan kenaikan ini bakal terhenti karena telah kehabisan tenaga.

"Saya pikir ini sudah dekat pada ujungnya. Dalam waktu dekat bisa saja harga minyak kembali jatuh," jelas President Excel Futures, Mark Waggoner.

Untuk diketahui, anggota OPEC sepakat untuk memangkas produksi minyak untuk pertama kali dalam delapan tahun. OPEC akan memangkas produksi minyak sekitar 1,2 juta barel per hari mulai Januari 2017. Ini untuk memenuhi rencana pemangkasan dalam pertemuan OPEC pada September.

Sebelumnya dalam pertemuan di Algiers pada September 2016, OPEC setuju menurunkan produksi minyak menjadi 32,5 juta barel untuk mendorong kenaikan harga minyak. Meski demikian, perjanjian itu mengecualikan Nigeria dan Libya. Namun, Irak diberikan kuota untuk pertama kali sejak 1990. (Gdn/Ndw)

Read more...

Harga Minyak Mentah Naik Tembus USD50 Featured

Sumber : http://economy.okezone.com/

NEW YORK - Harga minyak mentah ditutup menguat seiring dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berjanji untuk membatasi produksi minyak mentah mereka.

Hal ini akan ditentukan pada pertemuan November dengan negara non-OPEC Rusia pada November. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo yakin bahwa Rusia akan setuju untuk membatasi produksi minyak.

Menurut dia, Rusia sudah sangat aktif dalam mencoba menstabilkan pasar minyak yang terus melemah.

Harga minyak telah naik sekitar 13 persen, dalam tiga minggu terakhir setelah adanya kabar bahwa OPEC mengusulkan penurunan atau pembekuan produksi pertama dalam delapan tahun terakhir pada bulan lalu.

Minyak mentah patokan AS, light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman November menguat 0,35 sen dolar AS menjadi USD50,29 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan minyak mentah patokan Eropa, Brent North Sea, untuk pengiriman Desember naik 0,16 sen dolar AS menjadi USD51,68 per barel di London ICE Futures Exchange.

Read more...

Cadangan minyak Alaska akan lompat 80% Featured

Sumber : kontan.co.id/news/

JAKARTA. Cadangan minyak di Alaska diproyeksi akan bertumbuh sebanyak 80% setelah perusahaan yang berbasis di Dallas, Caelus Energy LLC mengumumkan penemuan sekitar 6 miliar barel minyak yang siap ditambang di laut sekitar kutub utara.

"Ini adalah penemuan yang menggembirakan bagi kami, dan kami pikir juga bagi masyarakat di negara bagian Alaska," ujar CEO Caelus Energy LLC Jim Musselman sebagaimana dilansir Bloomberg.

"Light oil di daerah ini dapat ditemukan setelah mengumpulkan data seismik dan dua pengeboran mulai digali pada awal tahun ini. Sementara pada 2018 nanti akan digali dua pengeboran lagi," kata Casey Sullivan, juru bicara Caelus Energy LLC sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Sullivan meyakini, bahwa penemuan sumber minyak baru ini adalah yang terbesar dalam empat dekade.

Sebelum ini, output produksi minyak Alaska memang cenderung menurun hingga 438.000 barel sehari pada tahun lalu. Bandingkan saja dengan saat masa jayanya pada tahun 1988 yang output produksinya bisa melebihi dua juta barel sehari. Dipercaya, dengan pembukaan tambang-tambang baru dalam beberapa tahun ke depan, output produksi negara bagian Alaska dapat kembali seperti tahun-tahun kejayaannya

Read more...

Prediksi Harga Minyak dan Gas Dunia 2017 dan Dampak untuk Indonesia (1) Featured

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Dr. Ardian Nengkoda *)

Spektrum

Dalam rentang waktu Januari sampai dengan Juli 2014, harga minyak dunia versi WTI (West Texas Intermediate) rata-rata selalu bertengger di atas 100 USD per barel, menikmati masa-masa terbaiknya. Bahkan pada 30 Juli 2014, harga minyak mentah masih tercatat di sekitar 104.3 USD per barel. Namun apa daya, dalam periode enam bulan berikutnya, tepatnya di akhir Januari 2015, harga minyak turun secara tajam ke level 44 USD per barel saja.

Perlu kita ketahui bersama, referensi WTI dari Amerika ini adalah salah satu rujukan (benchmark) harga minyak mentah di seluruh dunia, termasuk harga minyak mentah dari perut bumi Indonesia. Harga harian tertinggi minyak WTI dalam siklus 10 tahunan-nya bahkan pernah menyentuh puncak 145.3 USD per barel tertanggal 3 Juli 2008. Rujukan lain yang juga tak kalah populer selain WTI adalah Brent yang referensi-nya cukup populer untuk minyak yang berasal dari Laut Utara (North Sea) dengan target pasar Eropa.

Sejatinya, harga minyak mentah yang berkualitas tinggi merujuk pada dua faktor kualitas utama yaitu grade dengan kepadatan yang relatif rendah (low density) serta kandungan sulfur yang juga rendah (sweet). Dengan dua faktor utama ini, pembeli dapat memberikan harga yang layak pada jenis minyak yang beraneka jenis di pasar dunia. Pembeli akan memberikan harga yang layak kepada penjual jika kualitasnya bagus, namun pembeli akan mengajukan diskon jika kualitasnya adalah minyak berat dengan kandungan sulfur yang tinggi.

Harga minyak Brent umumnya selalu di atas WTI sekitar 5 USD per barel dikarenakan kualitasnya yang premium. Namun, penyebab persis naik turunnya harga minyak merupakan cerita yang cukup kompleks, dampaknya apalagi. Melalui pemahaman bagaimana global crude oil pricing ini bekerja, kita tentunya berharap, bahwa kita mampu mengidentifikasi semua risiko, dampak serta mengolah berbagai macam potensi sumber energi yang kita miliki serta membuat strategi kebijakan ketahanan energy yang lebih baik untuk sebesarnya kemakmuran rakyat.   

Fenomena super cycle?

Dalam tren penurunannya, harga minyak dunia (WTI) sempat menyentuh titik nadir terendahnya 26.2 USD pern barel pada 11 Februari 2016. Saat ini pertanggal 13 September 2016, harga minyak mentah masih di sekitar 44.9 USD per barel saja. Bahwa kemudian, harga minyak dunia mempengaruhi ekonomi global, ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri (Yale, 2015). Harga minyak mentah juga mempengaruhi harga dari produk hidrokarbon turunannya.

Jika kita perhatikan secara seksama dalam rentang 70 tahun-an industri perminyakan, tren harga minyak mentah rendah saat ini bukanlah untuk yang pertama kalinya terjadi. Namun, kali ini, cukup berbeda dan membuat heboh karena selama hampir 3,5 tahun berada dalam kisaran harga 90 USD per barel lalu terjerembab menjadi setengahnya dalam kurun dua bulan saja.

Beberapa analis kenamaan serta ekonomis mengatakan, bahwa fenomena rendahnya harga minyak yang menimpa saat ini bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Namun, tren ini merupakan suatu siklus normal yang berulang dinamakan “super cycle” dari suatu komoditas yang biasa dijual belikan dalam market (Julian Simon, 1980). Pakar ini menyebutkan bahwa teknologi akan selalu mampu meningkatkan pasokan suatu komoditas (dalam hal ini minyak) dengan memanfaatkan sumber daya–sumber daya baru yang sebelumnya tidak tersedia sehingga mengakibatkan harga komoditas akan jatuh karena berlebih nya pasokan.

Dan luar biasa, kali ini, prediksi Julian tersebut terbukti kembali. Sejatinya shale oil ini (minyak serpih) di Amerika bukanlah penemuan baru namun sebenarnya sudah ada selama 60 tahun. Namun, yang benar-benar baru adalah teknologi fracking (hydraulic fracturing technology atau teknologi rekah) telah jauh lebih baik dalam beberapa tahun terakhir. Berhasilnya teknologi di Amerika ini, bahkan mampu meningkatkan produksi minyak dua kali lipat hampir 4,5 juta barel per hari, sehingga secara keseluruhan produksi minyak Amerika mendekati 13 juta barel per hari. Kondisi inilah yang sejatinya membuat supply minyak mentah menjadi berlebih.

Harga minyak?

Timbulah pertanyaan paling mendasar untuk kita semua, faktor apa sajakah yang memengaruhi harga minyak ini? Apakah sesederhana prinsip supply (pasokan) dan demand (permintaan)? Ternyata tidak sesederhana itu, ada faktor lain yaitu sentimen pasar. Termasuk di antara nya adalah: kondisi tingkat produksi serta cadangan Amerika serta OPEC, geopolitik, kemampuan laten produksi beberapa negara penghasil minyak (Non-OPEC), faktor kekuatan mata uang Amerika, pertumbuhan ekonomi Cina, dan lainnya.

Dari kebutuhan minyak mentah dunia saat ini sekitar 90 juta barel per hari, supply dari negara negara OPEC hanya sekitar 34 juta saja sedangkan supply terbanyak di dominasi oleh negara Non OPEC termasuk Rusia dan Amerika. Data Organisasi Negara-negara Penghasil Minyak (OPEC) menyebutkan, konsumsi dunia pada tahun 2015 mencapai 92,8 juta barel per hari (bph) naik 0,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Ada 15 negara dengan besar konsumsi melebihi 1,5 juta bph. Amerika Serikat di peringkat pertama dengan 19 juta bph, diikuti Cina (11,1) dan Jepang (4,3). Indonesia berada di peringkat 13 dengan konsumsi 1,6 juta bph.

Pada 2016, permintaan minyak diperkirakan terus tumbuh meski dengan persentase lebih kecil. Data SPE terbaru (September 2016), Q3-2016 ini mencatat bahwa pasokan minyak dunia adalah sekitar 96.4 juta barel per hari, sedangkan konsumsinya hanya sekitar 95.03 barel per hari saja sehingga masih ada kelebihan pasokan sekitar 1.4 juta barel per harinya. Meski baru-baru ini pada 27-29 September 2016 yang lalu OPEC sempat mengadakan pertemuan anggotanya di Aljazair dan sepakat untuk memangkas produksi sekitar 400 ribu barel per hari, kita bisa meilhat bersama bahwa harga minyak terlihat menggeliat naik ke posisi sekitar 49 USD per barel (WTI) per tangal 7 Oktober ini.

Berdasarkan sebaran cadangan minyak dunia (data: OPEC Annual Statistical Bulletin 2015), cadangan minyak anggota OPEC secara keseluruhan adalah sekitar 1.206 miliar barel (81 persen). Sedangkan negara-negara NON-OPEC sekitar 286,9 miliar barel  (19 persen), sehingga tentunya kita bisa melihat sejauh mana anggota OPEC dapat memengaruhi harga minyak dunia mendatang.

Mari kita pahami pasar. Harga minyak versi WTI adalah rujukan komoditas bagi kontrak berjangka pendek New York Mercantile Exchange (NYMEX). Ya, dalam proses jual belinya di pasar (market) tadi, minyak mentah dianggap sebagai komoditi sama seperti emas, tembaga, nikel dan bahan tambang lainnya. Dalam kenyataannya, kesepakatan harga minyak mentah antara pembeli dan penjual berlaku untuk suatu kontrak berjangka ke depan (futures) antara 1-3 bulan. Setidaknya ada dua jenis pedagang (trader) berjangka ini, yaitu hedgers (yang betul betul butuh dan membeli komoditi) dan spekulan.

Kenyataannya yang terjadi dalam lantai bursa, transaksi jual-beli lebih banyak didominasi oleh spekulan dibanding hedgers. Sebagai contoh, harga minyak harian WTI pada bulan September 2015 adalah 44 USD per barel, sedangkan produksi minyak mentah Amerika pada bulan itu adalah sebanyak 9.1 juta barel per hari dengan kebutuhan sekitar 19 juta barel minyak. Sedangkan selang lima bulan saja, pada Februari 2016, produksi minyak Amerika juga tetap pada level 9.1 juta barel namun harga minyak saat itu jatuh di sekitar 28 USD per barel. Lah kok bisa? Di sinilah perlunya kita memahami faktor faktor yang mempengaruhi harga minyak dalam upaya meningkatkan ketahanan negeri kita terhadap migas.

Per tanggal 7 Oktober 2016 harga minyak bumi (WTI) sudah naik ke sekitar 49 USD dibandingkan dengan harga akhir September sebelum pertemuan OPEC, harga minyak mentah bulan Oktober ini merujuk pada harga yang akan dikirim pada bulan November 2016 mendatang. Kita patut duga, bahwa naiknya harga minyak secara perlahan namun tidak secara cepat adalah karena pengaruh OPEC, data cadangan minyak (crude stock pile) Amerika yang sedikit menurun, bersamaan itu bisa jadi ada swing production dari negeri penghasil minyak lain yang coba mengisi kekosongan 400 ribu barel OPEC tadi. Sementara itu shale oil di Amerika dengan teknologi fracking-nya pun masih belum bisa tampil kembali karena ke-ekonomian nya ada di level 60 USD per barel.

Kondisi kita

Bagaimana dengan Indonesia? Perekonomian Indonesia hingga saat ini masih sangat tergantung pada minyak. Karena, selain sebagai produsen minyak, Indonesia juga sebagai pengimpor minyak. Begitu pula dengan kontribusinya untuk APBN, saat ini, migas berkontribusi untuk sekitar 15 persen dari pendapatan domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data neraca perdagangan atau data ekspor dan impor sepanjang Agustus 2016, berdasarkan data BPS teranyar, neraca perdagangan pada bulan Agustus disimpulkan mengalami surplus sebesar 293,6 juta USD. Secara spesifik terkait migas, ekspor migas tercatat mengalami kenaikan sebesar 12,95 persen secara month to month dari 1 miliar USD pada Juli lalu menjadi 1,13 miliar USD pada Agustus 2016. Sementara itu, impor migas naik sebesar 16,55 persen dibandingkan bulan Juli 2016 dari 1,51 miliar USD menjadi 1,76 miliar USD.

Meski tercatat tren surplus neraca perdagangan ini adalah untuk yang ke-8 kalinya secara berturut-turut sepanjang tahun 2016, namun ada kemungkinan kuat bahwa rendahnya harga minyak dunia yang anjlok saat ini di kisaran 40-45 USD per barel menjadi faktor eksternal. Paradigma kita harus berubah, kita bukan penghasil minyak besar, kita importer sehingga kesadaran masyarakat akan energi ini menjadi penting. Secara kontras, kita hanya menghasilkan minyak mentah sekitar 800 ribu barel per hari. Sedangkan impornya sekitar 1 juta barel per hari dan konsumsi sekitar 1.4 juta BBM perhari (data ESDM, 2016).

Bagaimana hitungan ketahanannya? Idealnya pemenuhan kebutuhan minyak nasional dipasok dari produksi minyak mentah nasional saja. Faktanya kan tidak. Kita juga impor minyak mentah dan impor produk kilang dimana dalam konteks neraca minyak. Pasokan adalah harus sama dengan konsumsi yaitu merupakan penjumlahan dari input kilang (minyak mentah nasional dan minyak mentah impor) ditambah dengan impor produk kilang dan dikurangi ekspor produk kilang. Tambahan kapasitas kilang saat ini sayangnya tidak diimbangi oleh peningkatan produksi minyak mentah di Indonesia.

Dalam kalkulasi neraca minyak nasional ini, stok memerankan fungsi balancing (penyeimbang) untuk memenuhi kebutuhan ataupun bilamana terjadi kelebihan pasokan, maka akan dimasukkan sebagai buffer (cadangan). Sehingga, definisi strategi ketahanan energi kita, bisa dimulai dari status neraca ini. 

Kebijakan energi nasional harus tepat sasaran serta harus mampu mendukung pembangunan, bukan hanya sebagai sumber devisa. Ancaman krisis energi ini serius dan bukan cerita fiktif sehingga seluruh rakyat Indonesia harus memahaminya secara proporsional.

Tulisan ini adalah bagian pertama dari tiga bagian, membahas prediksi harga minyak dunia di tahun 2017, juga tentang harga gas serta hal-hal strategik apa yang telah kita pelajari dari situasi global dan dampak untuk Indonesia dalam jangka pendek.

*) Pemerhati ketahanan energi, Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Timur Tengah. WNI dan tinggal di Arab Saudi.

Read more...

Harga Minyak Jatuh Lebih 1% Featured

Sumber : sindonews.com oleh Bona Ventura

turun

SINGAPURA - Setelah menguat sebelumnya, harga minyak dunia kembali tergelincir lebih dari 1% pada perdagangan Senin ini. Melansir Reuters, Senin (10/10/2016), harga si emas hitam turun akibat keraguan dari produsen non-OPEC untuk memangkas produksi. Rusia dan anggota non-OPEC lainnya memandang perlu untuk menjaga pasokan bahan bakar global.

Acuan minyak berjangka Internasional Brent diperdagangkan turun 1,1% atau 59 sen ke USD51,34 per barel pada 00:01 GMT. Dan minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 57 sen atau 1,1% ke level USD49,24 per barel.

ANZ Bank mengatakan bahwa harga minyak yang ditarik ke bawah imbas dari pernyataan Menteri Energi Rusia yang mengatakan tidak mengharapkan menandatangani kesepakatan produksi dengan OPEC pada Konferensi Energi Dunia, yang dimulai pekan ini di Istanbul, Turki.

Para pedagang juga mengatakan jatuhnya harga imbas dari kenaikan jumlah rig AS, yang menyiratkan bahwa produsen minyak AS bersedia untuk meningkatkan produksi lagi pada tingkat harga sekitar USD50 per barel. "Sejak palung (kejatuhan) pada 27 Mei 2016, produsen telah menambahkan 112 (35%) rig minyak di AS," kata bank asal Amerika Serikat, Goldman Sachs seperti dikutip CNBC, Senin (10/10).

Meskipun harga lebih lemah pada hari Senin, analis mengatakan mereka memperkirakan harga sedikit lebih tinggi untuk sisa tahun ini dan tahun 2017 mendatang. Barclays Bank memperkirakan stockdraws selama musim dingin mendatang akan mendukung fundamental pasar minyak fisik, terlepas dari keputusan pada bulan November di Wina. "Kami berharap bahwa harga akan naik ke sekitar USD50 per rentang barel pada Q4," tulisnya.

Bank Inggris tersebut menambahkan bahwa harga akan menerima dukungan hingga tahun depan akibat dari permintaan bensin di Amerika.

Read more...

Opec Batal Pangkas Produksi, Harga Minyak Dunia Turun 1% Featured

Sumber : VIVA.co.id  oleh Dusep Malik 

VIVA.co.id – Harga minyak dunia pada awal perdagangan pekan ini tercatat turun lebih dari satu persen. Hal tersebut disebabkan oleh keraguan organisasi negara pengekspor minyak dunia atau OPEC untuk memangkas produksi agar dapat mengendalikan kelebihan pasokan minyak global.

Dilansir dari CNBC pada Senin 10 Oktober 2016, harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan sebesar US$51,34 per barel atau turun 0,59 sen. Sedangkan minyak Amerika Serikat (AS) atau West Texas Intermediate (WTI) turun 57 sen atau 1,1 persen menjadi di level US$49,24 per barel.

ANZ Bank mengatakan harga minyak yang turun kali ini didorong oleh pernyataan menteri energi Rusia yang tidak ingin menandatangani kesepakatan memangkas produksi dengan OPEC pada konferensi energi dunia yang dimulai minggu ini di Istanbul.

Selain itu, para pedagang di pasar juga melihat harga yang di bawah tekanan disebabkan oleh kenaikan jumlah rig AS, di mana hal itu mengisyaratkan bahwa produsen minyak AS akan meningkatkan produksi lagi.

"Sejak rentang waktu 27 Mei 2016 hingga saat ini, produsen telah menambahkan 112 (35 persen) rig minyak di AS," kata Bank Goldman Sachs AS.

Sementara itu, meski pada Senin harga lebih lemah, analis memperkirakan harga akan lebih tinggi di sisa tahun ini dan 2017 nanti. Bahkan, Barclays Bank perkirakan stok musim dingin mendatang mendukung fundamental pasar minyak di level US$50 per barel pada kuartal IV

Read more...

Harga minyak dunia naik didorong penurunan persediaan AS Featured

Kamis, 6 Oktober 2016 06:08 WIB | 1.976 Views

harga

Ilustrasi harga minyak. (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

New York (ANTARA News) - Harga minyak dunia membukukan keuntungan kuat pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah data resmi menunjukkan penurunan mengejutkan dalam persediaan mingguan minyak mentah Amerika Serikat.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November bertambah 1,14 dolar AS menjadi menetap di 49,83 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember naik 0,99 dolar AS menjadi ditutup pada 51,86 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. 

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan mingguannya pada Rabu, bahwa persediaan minyak mentah AS turun tiga juta barel menjadi total 499,7 barel dalam pekan yang berakhir 30 September, mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut.

Para analis yang disurvei oleh S&P Global Platts telah memperkirakan kenaikan dua juta barel dalam persediaan minyak mentah AS untuk pekan tersebut.

Harga minyak telah maju lebih dari 10 persen sejak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencapai kesepakatan pada Rabu lalu (28/9) untuk memangkas produksi minyak mentah untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.

Para menteri perminyakan OPEC diharapkan akan menuntaskan rincian akhir dari kesepakatan tersebut pada pertemuan organisasi mereka pada 30 November di Wina, Austria.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama, karena minyak yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,08 persen menjadi 96,092 pada akhir perdagangan di New York, setelah data pekerjaan AS berada di bawah ekspektasi.


Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Read more...

Behind the Scene of Development Field? Why Data management is required? Featured

Tri Wuri Asri Sulistyoati

flow


Integrated workflow between geologist, reservoir engineer, and production engineer are mainly conducted for mapping, modeling and reservoir characterization review. Those are required to understanding reservoir potential and production strategy. Reservoir characterization with multi-layer reservoir in fluvio-deltaic depositional environment is classified by the zone depositional. The integrations require many kind of data to approach the best technique in business process for oil and gas development field.

For study case, geological mapping in fluvio-deltaic depositional environment exhibits different kind of zone deposition vertically. Each zone has different value of gross sand, net sand, and net pay (oil or gas). Those are captured to create the geological mapping. As a development field case, whereas has more than 800 wells. The availability of data is required for geologist to propose new well, update mapping, modeling, helping reservoir engineer to calculate the reserves, also oil and gas production report. Maximizing the daily production, old wells which have been drilled still can be perforated by analyzing the value of permeability, water saturation, and volume of clay. These data are provided by data management, integrated with geological feature of mapping, static, and dynamic modeling by each zones. These considerations were reliable to make an application system that can be used by all users.

The methods are expected to enable geologist optimizing and ease their work to do correlation for mapping. Many data are required to apply the implementation of workflow including the well logs data, directional survey, seismic, and data from the field.  The selective procedures are proposed to develop data management in order to manage the workflow of each users (geologist, reservoir engineer, and production engineer). It provides them to maintain the production, propose new well, calculate the reserves, and zone perforations candidate which become a guideline of daily business process.

Collaboration and modification workflow of geologist, reservoir engineer, and production engineer are applied to elaborate the business process of the oil and gas industries. By this consideration, data management is required so all users can access the database. It help them to collect and analyze the data. That is why most of the time, data management team usually works behind the scene. They are providing the data and storing into database, helping their users to maintain daily workflow, and also solving the problems. 

Read more...

Harga Minyak Dunia Jatuh, meski OPEC Bekukan Produksi Featured

Sumber : sindonews.com

Anto Kurniawan

Senin,  3 Oktober 2016  −  09:05 WIB

SINGAPURA - Harga Minyak Dunia pada awal perdagangan hari ini tercatat jatuh meninggalkan level USD50 per barel, meskipun pekan ini Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat membekukan produksi. Para pelaku pasar diyakini meragukan langkah yang diambil OPEC mampu mengendalikan produksi dan pasokan global yang telah melampaui konsumsi. 

Dilansir Reuters, Senin (3/10/2016) harga minyak mentah berjangka Brent mengalami penurunan sebesar 35 sen atau 0,7% ke level USD49,84 per barel pada pukul 00.53 GMT. Sementara minyak berjangkas AS West Texas Intermediate (WTI) juga menyusut 40 sen atau setara dengan 0,83% di level USD47,84 per barel.

Aktivitas perdagangan minyak menjadi terbatas pada awal pekan, ketika beberapa negara di China dan Jerman sedang libur serta beberapa pasar saham Asia dan Eropa juga masih ada yang tutup. Penurunan harga minyak terjadi, justru ketika OPEC sepakat memangkas produksi minyak mereka antara kisaran 32,5 juta barel per hari (bpd) serta 33,0 juta bpd dari total 33,5 juta bpd.. 

OPEC sendiri menerangkan akan merampungkan rincian proses kebijakan tersebut saat menggelar pertemuan, November mendatang. Para pelaku pasar menilai penurunan harga minyak, meskipun OPEC mengumumkan pemotongan produksi karena intervensi yang direncanakan tidak cukup membuat pasar stabil. 

"Risiko harga minyak diciptakan sendiri oleh OPEC, saat kesepakatan pemangkasan produksi dinilai gagal saat penurunan harga masih curam," terang Barclays. 

Skeptisisme pasar berasal dari fakta bahwa beberapa negara OPEC pada tahun ini mengejar rekor produksi baru saat Arab Saudi, Iran dan Irak enggan untuk berbagi pasar. Akibatnya produksi minyak OPEC sempat mencapai 33.60 juta bpd pada September dari revisi Agustus sebesar 3.53 juta bpd untuk menjadi yang tertinggi dalam sejarah menurut survei Reuters.

Read more...
Subscribe to this RSS feed