Said Putra Ramadani

Behind the Scene of Development Field? Why Data management is required?

Tri Wuri Asri Sulistyoati

flow


Integrated workflow between geologist, reservoir engineer, and production engineer are mainly conducted for mapping, modeling and reservoir characterization review. Those are required to understanding reservoir potential and production strategy. Reservoir characterization with multi-layer reservoir in fluvio-deltaic depositional environment is classified by the zone depositional. The integrations require many kind of data to approach the best technique in business process for oil and gas development field.

For study case, geological mapping in fluvio-deltaic depositional environment exhibits different kind of zone deposition vertically. Each zone has different value of gross sand, net sand, and net pay (oil or gas). Those are captured to create the geological mapping. As a development field case, whereas has more than 800 wells. The availability of data is required for geologist to propose new well, update mapping, modeling, helping reservoir engineer to calculate the reserves, also oil and gas production report. Maximizing the daily production, old wells which have been drilled still can be perforated by analyzing the value of permeability, water saturation, and volume of clay. These data are provided by data management, integrated with geological feature of mapping, static, and dynamic modeling by each zones. These considerations were reliable to make an application system that can be used by all users.

The methods are expected to enable geologist optimizing and ease their work to do correlation for mapping. Many data are required to apply the implementation of workflow including the well logs data, directional survey, seismic, and data from the field.  The selective procedures are proposed to develop data management in order to manage the workflow of each users (geologist, reservoir engineer, and production engineer). It provides them to maintain the production, propose new well, calculate the reserves, and zone perforations candidate which become a guideline of daily business process.

Collaboration and modification workflow of geologist, reservoir engineer, and production engineer are applied to elaborate the business process of the oil and gas industries. By this consideration, data management is required so all users can access the database. It help them to collect and analyze the data. That is why most of the time, data management team usually works behind the scene. They are providing the data and storing into database, helping their users to maintain daily workflow, and also solving the problems. 

Read more...

Harga Minyak Dunia Jatuh, meski OPEC Bekukan Produksi

Sumber : sindonews.com

Anto Kurniawan

Senin,  3 Oktober 2016  −  09:05 WIB

SINGAPURA - Harga Minyak Dunia pada awal perdagangan hari ini tercatat jatuh meninggalkan level USD50 per barel, meskipun pekan ini Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat membekukan produksi. Para pelaku pasar diyakini meragukan langkah yang diambil OPEC mampu mengendalikan produksi dan pasokan global yang telah melampaui konsumsi. 

Dilansir Reuters, Senin (3/10/2016) harga minyak mentah berjangka Brent mengalami penurunan sebesar 35 sen atau 0,7% ke level USD49,84 per barel pada pukul 00.53 GMT. Sementara minyak berjangkas AS West Texas Intermediate (WTI) juga menyusut 40 sen atau setara dengan 0,83% di level USD47,84 per barel.

Aktivitas perdagangan minyak menjadi terbatas pada awal pekan, ketika beberapa negara di China dan Jerman sedang libur serta beberapa pasar saham Asia dan Eropa juga masih ada yang tutup. Penurunan harga minyak terjadi, justru ketika OPEC sepakat memangkas produksi minyak mereka antara kisaran 32,5 juta barel per hari (bpd) serta 33,0 juta bpd dari total 33,5 juta bpd.. 

OPEC sendiri menerangkan akan merampungkan rincian proses kebijakan tersebut saat menggelar pertemuan, November mendatang. Para pelaku pasar menilai penurunan harga minyak, meskipun OPEC mengumumkan pemotongan produksi karena intervensi yang direncanakan tidak cukup membuat pasar stabil. 

"Risiko harga minyak diciptakan sendiri oleh OPEC, saat kesepakatan pemangkasan produksi dinilai gagal saat penurunan harga masih curam," terang Barclays. 

Skeptisisme pasar berasal dari fakta bahwa beberapa negara OPEC pada tahun ini mengejar rekor produksi baru saat Arab Saudi, Iran dan Irak enggan untuk berbagi pasar. Akibatnya produksi minyak OPEC sempat mencapai 33.60 juta bpd pada September dari revisi Agustus sebesar 3.53 juta bpd untuk menjadi yang tertinggi dalam sejarah menurut survei Reuters.

Read more...

Implementasi Teknologi Yang Tepat Akan Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Bisnis Hulu Migas

Sumber : http://www.skkmigas.go.id/

8 September 2016



Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kembali menyelenggarakan Workshop Oil and Gas Technology Update, Selasa (27/9). Pelaksanaan workshop bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman personel SKK Migas terkait teknologi dan fasilitas produksi termutakhir dalam bisnis hulu migas. Dengan demikian, SKK Migas dapat memberi solusi tepat untuk membantu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) menjalankan bisnis hulu migas secara efektif dengan biaya yang efisien. “Personel SKK Migas adalah yang mengendalikan dan mengawasi operasi Production Sharing Contract (PSC) untuk eksplorasi maupun eksploitasi migas. Maka SKK Migas harus memiliki knowledge yang kuat di bidang teknologi

Read more...

Industri Hulu Migas Perlu Penyederhanaan Perizinan

Sumber : http://www.skkmigas.go.id/

22 September 2016

Jakarta – Untuk meningkatkan minat investor berinvestasi pada sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia, perizinan di di industri ini perlu disederhanakan. Ini disampaikan Kepala Dinas Formalitas SKK Migas Didik Sasono Setyadi pada talkshow di Radio Sindo Trijaya FM, Rabu (21/9).

Dikatakannya, dewasa ini jumlah perizinan yang harus diurus investor untuk melaksanakan kegiatan usaha hulu migas masih sangat banyak dan beragam. Berdasarkan catatan SKK Migas, saat ini, untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas, investor harus melalui 341 proses perizinan. Dengan demikian, untuk mengurus perizinan dibutuhkan waktu sekitar 1-2 tahun, yaitu mulai dari tahap mengisi perizinan survei dan proses penyiapan izin pada masa konstruksi. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya minat investor.

“Lama dan panjangnya proses pengurusan mengakibatkan cost (biaya) yang cukup tinggi,” ujar Didik.

Untuk menyederhanakan perizinan, SKK Migas mengajukan beberapa usulan, diantaranya menerapkan sistem clustering perizinan dan penerapan sistem pengurusan izin “satu pintu”.

Clustering perizinan merupakan strategi untuk menggabungkan izin yang memiliki substansi sejenis sehingga dapat mempersingkat proses perizinan. Sebagai contoh, SKK Migas mengusulkan Izin Prinsip, Penetapan Lokasi, Izin Mendirikan Bangunan, dan lainnya dapat digabung dalam Cluster Izin Tata Ruang. Sedangkan Izin Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL), Amdal, dan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan digabungkan dalam Cluster Izin Lingkungan dan Kehutanan.

Selain sistem clustering, SKK Migas juga mengusulkan untuk menerapkan sistem Pengurusan Izin “Satu Pintu”. Hal ini menjadi solusi penting untuk meningkatkan sinergi dan integrasi proses perizinan, mengingat panjangnya proses perizinan yang melibatkan berbagai lembaga instansi pemerintahan terkait.

Didik menegaskan bahwa SKK Migas hanya dapat memberikan usulan karena kewenangan memproses perizinan ada pada kementerian terkait. “SKK Migas posisinya bukan yang memberi izin, tetapi yang memohon izin. Kami memberikan usulan supaya proses perizinan ini dapat disederhanakan,” ujar Didik.

Masih dalam rangka mendukung penyederhanaan perizinan, SKK Migas juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Daerah. (Alf).

Read more...
Subscribe to this RSS feed