Kepala SKK Migas Kunjungi Fasilitas Terapung Lapangan Bukit Tua Featured

13 Juli 2015 Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengangkutan terapung (floating production storage and offloading/FPSO) Ratu Nusantara di lepas pantai Madura pada Sabtu, 11 Juli 2015. Fasilitas tersebut menjadi Bagian dari kegiatan produksi lapangan Bukit Tua, blok Ketapang yang dioperatori oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS), Petronas Carigali.

“SKK Migas ingin memastikan rencana peresmian yang sudah diajukan kepada presidan RI berjalan lancar dan tepat waktu,” kata Amien.

Menurut dia, pihaknya mendapat informasi mengenai hambatan-hambatan yang terjadi. Dengan melakukan kunjungan ke lapangan, dapat diketahui bagaimana penanganan masalah ini dilakukan. “Kami cari tahu hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh SKK Migas untuk mempercepat penyelesaian masalah-masalah tersebut,” katanya.

Dari kunjungan tersebut, Amien mengungkapkan juga mendapat beberapa pemikiran dan cara-cara baru yang bisa diimplementasikan untuk membuat proses produksi yang lebih efisien. Termasuk mengetahui bagaimana Petronas dapat menangani dan menyelesaikan dengan baik masalah teknis yang terjadi ketika anjungan pengeboran miring.

Lapangan Bukit Tua telah mulai produksi minyak dan gas bumi pada pertengahan Mei 2015. Saat ini, lapangan tersebut mampu menghasilkan 5.500 barel minyak per hari. Produksi secara bertahap akan meningkat hingga produksi puncak sebesar 20 ribu barel minyak per hari dan 50-70 juta kaki kubik per hari pada tahun 2016. Lapangan Bukit Tua merupakan proyek hulu migas terbesar Petronas di Indonesia dengan investasi sekitar US$ 800 juta. Lapangan ini terletak di laut utara Jawa Timur, 35 kilometer sebelah utara Pulau Madura, dan 110 kilometer timur laut Kota Gresik, Jawa Timur.

Anjungan Bukit Tua terhubung dengan FPSO Ratu Nusantara, yang memiliki kapasitas pengolahan minyak hingga 20 ribu barel per hari dan 70 juta kaki kubik gas bumi per hari, serta 20 ribu barel air per hari. Selain itu, kapal ini dirancang mampu menyimpan hingga 630 ribu barel minyak yang telah diproses. Kemudian, fasilitas ini terhubung melalui pipa bawah laut sepanjang 110 kilometer, dengan fasilitas penerimaan di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) di Gresik. Gas yang diproduksi akan disalurkan ke ORF di Gresik melalui pipa, sedangkan minyak akan dikirim dengan kapal tanker untuk di ekspor.

Wilayah Kerja Ketapang dioperatori oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd berdasarkan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas. Kepemilikan saham Petronas di wilayah kerja tersebut sebesar 80 persen. Sisanya, dimiliki PT Saka Ketapang Perdana, yang merupakan anak perusahaan dari Perusahaan Gas Negara (PGN). (ACU)

pak amien